Pengalaman di Dunia Seni Ukir (part 1)

Melanjutkan dari artikel sebelumnya, saya ingin berbagi pengalaman tentang belajar seni ukir. Waktu itu saya masih SMA. Meskipun saya lahir di Jepara, saya baru benar-benar jadi orang jepara sejak mulai SMA. Sebelumnya saya tinggal di kota lain.

Selama SMA, saya tinggal di desa Mulyoharjo. Dari dulu daerah situ merupakan “kantong”nya para pengukir. Pekerjaan itu sudah menjadi tradisi. Hampir semua laki-laki dewasa bisa “memegang pahat”. Dan sekarang kegiatan seni ukir didaerah itu sudah berkembang pesat. Mulyoharjo sudah menjadi desa wisata industri yang diresmikan oleh gubernur JATENG. Setiap pengunjung yang berburu mebel Jepara akan mendapatkan banyak pilihan. Jujur, saya sangat bangga dengan hal itu. Setidaknya saya pernah tinggal disana, dan ukiran jepara merupakan seni yang sangat saya cintai.

ukiran jepara
Paman saya sedang mengukir patung naga raksasa

Saya tinggal di rumah seorang jawara nya tukang ukir di desa Mulyoharjo. Dia Paman saya. Karya ukirnya sudah tersebar di daerah mancanegara, dan desain ciptaannya sendiri kerap meledak dipasaran dan dibuat oleh pengrajin lain. Setiap pulang sekolah saya selalu melihat bagaimana paman saya dengan piawainya menari dengan “ganden” dan “tatahnya”, merubah balok jati menjadi karya seni tinggi. Saat itu Paman saya sering membuat meja akar jati dengan motif naga dan pohon anggur. Sering juga dia membuat patung-patung dewa tradisi China, seperti Dewi Kwan Im dan yang lainnya. Jujur saja, saya pecinta seni, dan saya sangat menikmati berada dilingkungan tersebut.

Karena sangat tertarik dengan seni ukir, diam-diam saya membeli pahat di pasar Jepara. Waktu itu harganya tidah puluh ribu satu set. Ada lebih dari tiga puluh pahat dari paling besar hingga kecil. Secara umum ada tiga bentuk pahat untuk mengukir kayu. Ada “Kol, Penuku, dan Penilat”. Secara khusus  saya akan bahas tentang ini pada artikel berikutnya. Ketika saya  pulang dan mencoba pahat itu pada kayu Kakek saya sampai heran. “Ngapain kamu beli pahat?” katanya. Karena dirumah ada banyak sekali pahat yang biasa dipakai paman bekerja.  Tapi saya tidak berani menyentuhnya. Pahat itu seperti senjata keramat di tangan paman saya dan saya tidak berani menyentuhnya.

Ternyata pahat yang sudah saya beli itu tidak bisa langsung dipakai, karena harus diasah terlebih dahulu. Dan konon, ada orang khusus yang biasa meng”ungkal” pahat baru. Kalau sembarang orang yang mengasah pahat tersebut, atau bahkan kurang berpengalaman, akan merusak mata pisau pahat tersebut. Sedih juga, ternyata pahat tersebut tidak bisa langsung dipakai…

Woke deh, pembaca yang budiman, sepertinya cerita pengalamn saya ini akan menjadi sangat panjang. Saya bikin bersambung saja ya? 🙂 Saya akan lanjut ini ke artikel berikutnya. Terimakasih sudah berkunjung.

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply