Furniture Jepara – Pengalaman di Dunia Seni Ukir (part 2)

Melanjutkan dari artikel sebelumnya, kali ini saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman saya di dunia seni ukir pada furniture Jepara. Semoga anda tidak bosan membacanya :).

Kemarin sampai mana? Oh ya, pahat baru harus di asah dulu baru bisa digunakan. Mengetahui hal itu, saya langsung mencari tahu siapa yang bisa membantu saya mengasah pahat tersebut. Singkat cerita, saya ketemu dengan orang tersebut dan ternyata beliau begitu sibuk mengerjakan pesanan ukiran sehingga tidak bisa langsung mengerjakannya. Sedihlah hati saya….

Mengetahui bahwa saya punya minat untuk belajar mengukir, Kakek saya menawari untuk bergabung dalam sebuah tempat belajar mengukir di tempat ini. Dan inilah awal dari pengetahuan saya tentang dunia seni ukir.

mebel jeparaSebuah “sekolah natah” bukanlah sebuah kursus formal dengan instruktur, kurikulum dan modul panduan. Mungkin di tempat lain ada bentuk yang lebih formal tapi tidak ditempat ini. Tempat belajar ukir ini lebih seperti keluarga besar yang berkumpul dan mengalunkan paduan suara instrument “ganden” yang bertumbukan dengan “tatah”. Metoda belajar kami adalah praktek. Kami sebagai murid sama sekali tidak dipungut biaya, malah kami dapat makan siang, camilan, dan baju baru ketika hari lebaran tiba. Kok bisa begitu? Enak sekali???? Memang begitu, dan memang enak sekali.. J Karena media ukir yang kami kerjakan adalah barang-barang pesanan orang. Biasanya berupa komponen-komponen untuk furniture Jepara  seperti meja, kursi atau dipan dengan desain yang sederhana dan dijual dengan harga yang terjangkau. Jadi biar jelek, apa yg kami kerjakan laku juga dijual. Ada semacam simbiosis mutualisme. Kami disana untuk belajar, dan karena apa yang kerjakan bermanfaat, kami pun bisa merasakan nikmatnya.

Jadi itulah pengalaman saya ketika awal belajar ngukir furniture Jepara. Seandaninya saja system pendidikan di Indonesia bisa seperti itu : sekolah gak usah bayar, tapi dikasih makan siang. Ha ha ha… kayak di Jerman jadinya. Dan sekarang apakah saya sudah canggih dalam memainkan pahat/tatah? Tidak juga…. :D, Menjadi seorang pengukir itu butuh ketekunan. Ada koordinasi yang harmonis antara kekuatan dalam mengayun ganden, perasaan dalam memilih mata pahat, pemahaman tentang serat kayu, dan imajinasi dalam membentuk sebatang kayu. Itu dibutuhkan praktek secara rutin bertahun-tahun.  Saya belajar natah tidak sampai “lulus”. Sudah gitu selulus SMA saya meninggalkan desa Mulyoharjo tercinta untuk melanjutkan bentuk kehidupan yang lain. Berakhir sudah karir saya sebagi pengukir kayu :D. Tapi meskipun begitu, kecintaan saya pada seni ukiran jepara tak pernah pudar. Artikel dan website ini adalah  buktinya…

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply